Sepanjang rentang beberapa waktu belakangan ini, gelombang pemutusan hubungan kerja skala besar melanda banyak sekali developer video game sampai memicu penutupan maupun pembubaran studio. Situasi ini pun memicu rasa cemas mendalam di kalangan pelaku industri video game global.
Seorang analis membeberkan fakta menarik bahwa developer game di Jepang rupanya mencatatkan tren PHK tenaga kerja yang jauh lebih minim bila disandingkan dengan studio-studio dari negara barat. Lalu, apa pandangan lengkap sang pengamat mengenai fenomena tersebut?
Penjelasan Analis Mengapa Studio Asal Jepang Lebih Minim Kasus PHK
Mengacu pada data teranyar dari analis Amir Satvat lewat platform ASGC Games Industry Layoffs Tracker, dipaparkan potret nyata kondisi iklim industri game terkini. Catatan tersebut secara spesifik menyoroti maraknya PHK tenaga kerja yang tiada henti mendera sektor gaming.
Amir Satvat menerangkan bahwa perusahaan game asal Jepang semisal Capcom maupun Konami nyatanya sukses menjaga angka retensi staf mereka melampaui level 97%. Sang analis memandang penerbit serta developer Negeri Sakura tersebut sanggup merawat stabilitas basis operasional, ketimbang memompa dana demi membengkakkan ukuran kelompok pengembang hingga menyentuh ratusan atau puluhan ribu anggota.
Berikut merupakan kutipan langsung pandangan Amir Satvat.
Tim di Jepang biasanya jauh lebih kecil dan ramping. Mereka juga tidak tergiur gelombang tren game live-service maupun ambisi menciptakan judul mega-blockbuster yang menuntut sokongan 500 orang kru.
Aspek Pendukung Lain Versi Analis
Amir Satvat turut menguraikan bagaimana publisher Jepang macam Capcom enggan memburu arus model live-service yang seringkali labil. Strategi ini diambil karena mereka condong fokus mematangkan franchise yang digemari banyak orang, sembari menjalankan langkah baru guna mendongkrak minat para gamer wilayah Barat.
Di samping itu, Amir Satvat menyoroti jurang besaran kompensasi serta bonus tahunan bos eksekutif studio game internasional yang sangat fantastis. Dirinya mengungkap ada pimpinan yang mampu mengantongi kompensasi tembus 30 juta dolar lebih pada tahun lalu, tepat saat ratusan staf bawahannya justru dipangkas.
Secara kontras, pimpinan di perusahaan Jepang mengantongi penghasilan tinggi di kisaran 2 juta hingga 3 juta dolar saja. Nominal tersebut memperlihatkan selisih yang begitu mencolok saat dibandingkan dengan para petinggi korporasi game luar Jepang.
Demikian ringkasan sang analis terkait faktor mengapa developer game Jepang jauh lebih aman dari terpaan PHK ketimbang studio global. Bagaimana penilaian Anda mengenai ulasan dari Amir Satvat?
Simak pula kabar menarik Gamebrott lainnya seputar Studio Game atau tulisan berbeda persembahan Muhammad Faisal. For further information and other inquiries, you can contact us via [email protected].
