Serial JRPG legendaris semacam Final Fantasy maupun Dragon Quest tentu tidak pernah gagal memberikan kepuasan mendalam bagi segenap pemain yang mencintainya. Kendati demikian, lembaran panjang riwayat industri permainan elektronik turut mencatat keberadaan deretan judul berkualitas istimewa yang justru bernasib kurang beruntung, sampai akhirnya tersisih akibat catatan angka penjualan yang dinilai minim sewaktu pertama kali diperkenalkan ke pasaran.
Rekomendasi Permainan JRPG Kurang Populer Selain Final Fantasy dan Dragon Quest
Apabila ditelusuri secara lebih komprehensif, deretan karya ini sesungguhnya telah dipersenjatai mekanisme permainan yang teramat istimewa, narasi cerita berbobot tinggi, sekaligus prospek waralaba berskala masif andai saja pihak pengembang beserta penerbit berkehendak menyajikan kesempatan kedua melalui penggarapan sekuel di platform generasi mutakhir.
1. The Last Story
Berada langsung di bawah arahan sosok pencipta Final Fantasy, yakni Hironobu Sakaguchi, permainan yang diluncurkan untuk konsol Nintendo Wii ini sukses menyuguhkan terobosan segar bagi ranah JRPG. Formulasi pertempurannya memadukan komponen perlindungan tembak-menembak (cover shooter), koordinasi strategi regu, serta pemanfaatan situasi area sekitar secara amat responsif.
Kisah asmara berbalut perjuangan sekelompok tentara bayaran di teritori Kota Lazulis disajikan begitu padat tanpa menyisakan ruang yang menjemukan. Amat disayangkan apabila kapabilitas sistem bertarung taktis yang memikat ini mesti terhenti begitu saja tanpa berlanjut pada perangkat keras modern sekarang.
2. Radiata Stories
Karya ciptaan developer Tri-Ace pada masa kejayaan konsol PS2 ini mengusung gagasan simulasi dunia yang terasa teramat hidup pada masanya. Ratusan karakter non-pemain (NPC) yang mendiami dunia tersebut mempunyai jadwal aktivitas mandiri tiap hari, berpaling dari bangun tidur, menuntaskan pekerjaan harian, hingga bersantai menuju kedai saat malam tiba. Penentuan pilihan untuk berpihak pada kaum manusia atau golongan non-manusia juga sanggup merombak arah jalannya cerita secara radikal.
Dinamika pertikaian politik yang berliku disandingkan dengan skema pertarungan real-time yang memikat menjadikan kegagalan judul ini dalam memperoleh babak lanjutan tampak sebagai ketidakadilan nyata di lanskap industri game global.
3. The World Ends with You
Kendati sempat meluncurkan iterasi kedua dengan tajuk NEO, daya tarik semesta Shibuya beserta skema interaksi bertema kultur urban modern ini masih menyisakan ruang eksplorasi yang sangat lebar. Metode berlaga memanfaatkan koleksi lencana bertenaga magis spesifik menyajikan sensasi yang amat berlainan dari norma JRPG pada umumnya.
Rentang waktu yang terlampau panjang antara seri perdana dan penerusnya membuat eksistensi waralaba ini telanjur meredup di kalangan khalayak pemain utama. Padahal, tatanan lingkungan serta gagasan Reapers’ Game di berbagai kota megapolitan internasional lain menyimpan potensi menjanjikan untuk diwujudkan menjadi kelanjutan anyar yang memukau.
4. Resonance of Fate
Bagi siapa pun yang mulai jenuh terhadap tema pedang dan sihir fantasi konvensional, rilisan ini menyodorkan aksi tembak-menembak bersenjata api lewat arahan koreografi megah layaknya tontonan sinema aksi Hollywood. Pemain diberikan keleluasaan merancang pergerakan karakter sambil melompati kawanan musuh serta menghujani peluru dalam balutan visualisasi gerak lambat yang luar biasa menawan.
Mekanisme perakitan senjata api yang terkesan rumit dan ekstrem justru menjelma sebagai daya pikat penting yang mendorong gamer terus bereksperimen. Sayangnya, tingkat tantangan yang amat tinggi menjadikan karya ini kurang diminati pembeli umum sehingga babak berikutnya tak pernah direalisasikan.
5. Vagrant Story
Pihak Square Enix pernah menghadirkan mahakarya bernuansa fantasi gelap yang teramat matang melalui permainan era konsol PS1 ini. Mengabaikan keberadaan format kelompok petualang, pemain dipaksa menelusuri reruntuhan Kota Leá Monde secara mandiri berbekal sistem pembidikan anatomi fisik target yang begitu terperinci dan mendalam.
Penyampaian kisah yang serupa pementasan lakon teater klasik ditambah sajian grafis 3 dimensi yang melompati generasinya menjadikan judul ini senantiasa dirindukan. Kehadiran sekuel berbekal visualisasi modern tentunya bakal menjadi perwujudan impian terindah bagi para penggemar setianya.
Itulah rangkaian judul JRPG kurang diapresiasi yang sejatinya sangat pantas memperoleh kelanjutan pada masa sekarang. Adakah judul JRPG lain yang menurut Anda layak diteruskan? Mari bagikan pandangan Anda, kawan!
Temukan kabar menarik di Gamebrott seputar teknologi serta ulasan serupa yang tidak kalah memikat karya Andi. Untuk informasi lanjutan dan keperluan kerja sama lainnya, hubungi kami via [email protected].
