Perusahaan analisis blockchain asal Amerika Serikat, Chainalysis, mengumumkan bahwa pihaknya menjadi sasaran insiden keamanan siber ketika pelaku eksternal sukses menjangkau data non-sensitif milik pelanggan.
Meski demikian, pihak perusahaan menegaskan bahwa kebocoran tersebut sama sekali tidak menyentuh konten investigasi, kredensial autentikasi pengguna, maupun token sesi.
"Bulan ini, Chainalysis mendeteksi adanya aktor luar yang memanfaatkan teknik agentic ofensif guna memperoleh akses tanpa izin ke sistem serta perangkat internal Chainalysis," ungkap pihak Chainalysis pada hari Jumat.
"Sejumlah data pelanggan non-sensitif, seperti ID pengguna, nama lengkap, alamat surel, serta label peran organisasi bagi pengguna yang terdaftar di platform kami sempat diakses, termasuk informasi terkait organisasi dan pengguna Anda," lanjutnya.
Menanggapi kejadian ini, perusahaan menyatakan tengah melakukan penambalan celah keamanan sekaligus memperkuat pertahanan seluruh sistem operasional mereka.
Penyebutan "teknik agentic ofensif" memberikan indikasi kuat bahwa serangan tersebut dieksekusi menggunakan perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI), kendati Chainalysis tidak membeberkan rincian metode maupun taktik spesifik yang dipakai peretas.
"Kami mencermati adanya eskalasi serangan siber berbasis AI di seluruh industri, dan kami menerapkan langkah menyeluruh di tingkat korporasi untuk memastikan postur keamanan kami tetap tangguh menghadapi lanskap yang terus berubah dan memenuhi ekspektasi klien," jelas mereka.
Insiden ini berlangsung di tengah maraknya pemanfaatan AI oleh pelaku ancaman beberapa bulan belakangan. Beragam kelompok peretas mulai memanfaatkan teknologi otomasi pada tiap fase serangan untuk menyerang ratusan lembaga di aneka sektor bisnis.
Hal tersebut mencakup kelompok spionase siber yang disponsori pemerintah China, Vapor Panda, yang kedapatan memanfaatkan framework uji penetrasi agentic bernama ARTEX demi melancarkan serangan masif, meretas sekitar 140 target dalam tempo 11 hari selama operasi pembobolan luas.
"AI umumnya menyempurnakan serangan konvensional dengan menjadikannya kian gesit, personal, dan mudah diperluas skalanya," jelas Abnormal AI. "Rantai intrusi agentic serta injeksi prompt jauh lebih mencolok sebab bertumpu langsung pada sistem AI yang telah diterapkan."
