Kenapa Game Zaman Sekarang Sering Dianggap Terlalu Memanjakan Pemain?

Pernahkah Anda berada dalam situasi saat sedang asyik bermain game petualangan terkini, lalu tiba-tiba berhadapan dengan teka-teki lingkungan yang tampak menantang, namun karakter protagonis langsung mengoceh sendiri tanpa diminta? “Hmm, rasanya balok kayu ini mesti ditarik ke sudut kiri bawah supaya aku bisa memanjat dinding batu itu.” Perlakuan semacam ini terasa persis seperti saat kita sedang bersemangat mengisi teka-teki silang, namun jawabannya ternyata sudah digarisbawahi tebal dengan pena merah tepat di samping pertanyaannya.

Kecenderungan ini makin hari kian memicu tanda tanya di benak para pemain: benarkah game era modern sengaja dirancang agar pemainnya tidak perlu lagi memeras daya pikir saat bermain?

Dahulu, generasi pemain dituntut menyimak percakapan karakter non-pemain (NPC), membaca buku panduan cetak di dalam kotak kaset, atau menyiapkan buku tulis di samping keyboard untuk menggambar denah labirin manual serta menuliskan sandi rahasia. Sekarang keadaannya berbalik total; baru saja melangkah dua meter dari titik kemunculan (spawn), layar monitor langsung dipadati segudang penanda visual.

Tengok saja contoh pada Marvel’s Wolverine yang meluncur ke pasaran beberapa waktu lalu. Judul ini menuai label negatif karena menyuguhkan kadar bimbingan atau handholding yang dinilai melampaui batas hingga dianggap meremehkan inteligensi pemain. Taburan petunjuk arah yang amat rapat di sepanjang jalur linear, ditambah rentetan quick time event (QTE) tanpa konsekuensi kegagalan fatal, memicu kritik dari gamer kawakan yang mendambakan pengalaman bermain murni yang solid, bukan sekadar menonton tayangan sinematik yang disisipi tombol interaktif.

Mengapa Praktik Handholding Kian Merajalela pada Game Masa Kini?

Polemik mengenai maraknya budaya handholding pada game kontemporer ini menyerupai dua sisi koin yang beradu sudut pandang. Di satu sisi, rasa frustrasi para pemain kawakan tentu beralasan. Nyaris seluruh permukaan tebing curam, bebatuan terjal, atau ubin yang dapat dipanjat dalam game aksi kelas atas (AAA) zaman sekarang wajib dilapisi polesan cat berwarna kuning terang atau putih mencolok, seolah-olah regu pengecat baru saja melintas sebelum karakter tiba di lokasi.

Kondisi ini diperparah oleh tata letak antarmuka pengguna (UI) maupun tampilan informasi layar (HUD) yang kelewat memanjakan pandangan. Semuanya terpampang gamblang, mulai dari titik sasaran misi (objective marker) yang menampilkan angka jarak akurat hingga ke hitungan meter, jarum kompas terapung yang berkedip, sampai garis jejak imajiner berpendar di atas tanah yang menuntun arah langkah kaki menuju titik sasaran. Nilai penjelajahan murni serta kepuasan menemukan jalan rahasia perlahan sirna, karena perancang game tampak tidak lagi menaruh kepercayaan pada penalaran logika maupun ketajaman visual pemain.

Apakah Industri Game Kini Bukan Lagi Dikhususkan bagi Kalangan Hardcore?

Namun, manakala kita melihat melalui kacamata studio pengembang papan atas era sekarang, sudut pandang permasalahannya berubah drastis. Biaya produksi game kaliber AAA saat ini teramat fantastis, menyentuh puluhan hingga ratusan juta dolar Amerika Serikat serta menguras rentang pengerjaan bertahun-tahun lamanya.

Di tengah pertaruhan modal yang masif tersebut, pangsa pasar sasaran mereka tidak lagi bisa semata-mata mengandalkan gamer garis keras (hardcore) yang bersedia duduk memeras otak hingga berjam-jam atau mondar-mandir di kawasan yang sama selama tiga hari hanya demi melacak keberadaan satu anak kunci pintu di balik semak belukar. Korporasi dituntut merangkul spektrum demografi seluas mungkin, termasuk pemain pemula, penikmat kasual, hingga kalangan pekerja kantoran yang barangkali hanya memiliki sisa waktu senggang tiga puluh menit sebelum beranjak tidur.

Bagi kelompok pemain kasual dengan waktu sempit, merasa tersesat di tengah peta atau buntu dalam durasi berkepanjangan bukanlah hiburan yang mengasyikkan, melainkan pendorong utama untuk mematikan konsol dan tidak lagi menyentuh permainan tersebut. Pengembang berusaha menjauhi risiko kerugian tersebut, lantaran pemain yang meninggalkan permainan di tengah jalan adalah kerugian finansial nyata bagi kesinambungan ekosistem bisnis mereka.

Pengembang bertekad memastikan setiap orang yang telah membeli produk digital itu mampu meresapi alur cerita dari babak awal hingga penutup tanpa disorientasi. Oleh sebab itu, jalan keluar komersial paling aman bagi studio adalah memangkas kerumitan sistem dasar permainan, sembari menaburkan panduan navigasi yang melimpah ruah di sepanjang rute petualangan.

Apakah Sistem Bimbingan Tersebut Mengancam Masa Depan Industri Game?

Melihat fenomena tersebut, apakah tren ini menandai kemunduran bagi masa depan industri video game? Jawabannya tidak seburuk itu, lantaran industri interaktif selalu memiliki formula untuk mengembalikan titik keseimbangannya secara organik. Kian banyak studio yang mulai memahami cara merangkul kedua kelompok pemain yang berseberangan melalui penyediaan kustomisasi pengaturan yang fleksibel di opsi menu permainan.

Sejumlah karya beranggaran raksasa belakangan ini memberikan kebebasan kepada pemain untuk menonaktifkan instrumen pembantu visual, mulai dari menghapus cat kuning di dinding tebing, mematikan fungsi kompas serta peta mini di sudut layar, hingga membisukan dialog petunjuk spontan yang terlontar dari bibir sang protagonis saat pemain menghadapi teka-teki rumit.

Terlebih lagi, pencapaian luar biasa jajaran judul bergenre Soulslike ataupun petualangan rimba liar yang masyhur akan ketidakramahannya terhadap pemula membuktikan bahwa ceruk pasar bagi game minim tuntunan yang menguji ketahanan mental tetap eksis dan tumbuh kuat di pasar global.

Simpulan dari tren permainan modern yang terkesan memanjakan ini merupakan dampak wajar dari industri yang melesat kencang menjadi panggung hiburan arus utama sejajar dengan industri perfilman. Kita selaku konsumen tidak bisa menuntut seluruh game kembali ke era klasik tahun 90-an yang serba membingungkan.

Kendati demikian, selama perancang game tetap menyematkan setelan untuk mematikan panduan rute otomatis serta meniadakan rambu visual di menu pengaturan, kendali penuh terhadap cara bermain tetap berada di tangan pemain. Kita memiliki kemerdekaan penuh dalam menentukan seberapa berat tantangan logika yang ingin dipecahkan atau seberapa jauh kita rela membiarkan diri tersesat di dalam dunia virtual tersebut.

Kalau kalian sendiri masuk dalam barisan yang mana, brott? Apakah lebih menikmati perjalanan yang dibimbing dengan aman dan nyaman dari awal sampai akhir, atau justru paling puas ketika dibiarkan tersesat berjam-jam tanpa pertolongan?

Dapatkan informasi keren di Gamebrott terkait Tech atau artikel sejenis yang tidak kalah seru dari Andi. For further information and other inquiries, you can contact us via [email protected]