Misteri 2026 ED138: Objek Es Raksasa Terdeteksi di Balik Pluto, Calon Planet Kerdil Baru

JAKARTA — Kalangan astronom berhasil mengidentifikasi sebuah objek beku masif di kawasan luar Pluto yang berpotensi masuk klasifikasi planet kerdil. Temuan luar biasa tersebut membawa peluang penambahan entitas anyar dalam jajaran benda antariksa resmi pada sistem tata surya kita.

Pengumuman riset ini dilansir secara terbuka pada Kamis (29/10/2026) lewat Observatorium Vera C. Rubin di Chili. Fasilitas prestisius tersebut didukung kucuran dana Amerika Serikat dan dipersenjatai sensor kamera digital astronomi pemecah rekor berdaya 3,2 gigapiksel.

Kalkulasi para periset mengindikasikan bahwa objek berlabel sementara 2026 ED138 tersebut memiliki garis tengah sekitar 600 hingga 1.500 km. Rentang ukuran tersebut langsung menjadikannya salah satu calon planet katai paling masif yang tercatat dalam sejarah. Jarak orbitnya kini diperkirakan sekitar 46 kali rentang jarak Bumi-Matahari. Angka tersebut jauh lebih terpencil ketimbang posisi edar rata-rata Pluto yang terpaut kisaran 40 kali jarak Bumi ke Matahari.

Keberadaan objek ini disinyalir terlewatkan selama bertahun-tahun lantaran posisinya tersamarkan padatnya jutaan bintang di sekitar piringan Bima Sakti. Kendati demikian, kompilasi bidikan berkala dari Observatorium Rubin yang dipadukan dengan peranti lunak penelusur mutakhir akhirnya sanggup menyingkap rute pergeseran benda es tersebut.

Seandainya tervalidasi penuh, ED138 bakal menyusul jejak lima planet kerdil resmi versi Persatuan Astronomi Internasional (International Astronomical Union), mencakup Ceres, Eris, Makemake, Haumea, serta Pluto—planet kesembilan legendaris yang didegradasi statusnya pada 2006. Kelompok planet kerdil diketahui mengitari Matahari dan mempunyai daya gravitasi yang memadai guna membentuk rupa relatif bulat, namun belum sanggup membersihkan lingkungan orbitnya dari batuan antariksa lain.

ED138 diprediksi menyimpan dimensi memadai guna lolos kriteria bentuk bundar, kendati komunitas peneliti masih membutuhkan sederet observasi mendalam demi menetapkan status pastinya.

“Hal utama yang perlu kita lakukan adalah memastikan ukuran fisik 2026 ED138,” jelas sang penemu, Matt Holman, pakar astrofisika di Center for Astrophysics, Harvard and Smithsonian, saat diwawancarai Reuters. Dirinya memaparkan bahwa taksiran volume ED138 saat ini murni berpijak pada pantulan radiasi surya. Padahal menurut Holman, material mungil yang reflektif dapat berpendar sama tajamnya dengan formasi raksasa yang bercorak pekat gelap.

Demi menetapkan dimensi sebenarnya dari benda antariksa tersebut, tim periset berniat mengerahkan fasilitas teleskop ALMA di Chili. Instrumen canggih tersebut sanggup menangkap pancaran radiasi internal ED138, sehingga dapat menghasilkan angka pengukuran yang jauh lebih presisi.

Benda katai pamungkas yang disahkan oleh Persatuan Astronomi Internasional (International Astronomical Union) adalah Haumea pada 2008 lampau. Walau beberapa calon sempat bermunculan—termasuk 2017 OF201 yang tersiar pada Mei 2025—belum satu pun yang teregistrasi secara sah ke jajaran tersebut.

(Rahman Asmardika)