TABANAN – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mendorong generasi muda agar mengimbangi pemanfaatan gawai dengan berbagai kegiatan fisik, mulai dari mengayuh sepeda, berolahraga, hingga bergaul bersama rekan sebaya. Baginya, anak-anak mesti mengerti bahwa menghabiskan waktu tanpa menatap layar merupakan langkah menyehatkan, sekaligus sarana efektif mempererat persahabatan, mengasah fokus pikiran, dan menggali potensi diri di luar ranah maya.
Arahan ini diutarakan Meutya sewaktu berbincang bersama murid SD serta SMP pada agenda Sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 mengenai Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) di Tabanan, Bali, Jumat (9/10/2026). Di hadapan peserta dan perkumpulan pesepeda lintas generasi, ia menggarisbawahi urgensi pembatasan durasi menatap gawai.
“Bukan karena mama papanya enggak sayang kalian. Tapi kita semua bisa mengalihkan energi kita, salah satunya adalah dengan bersepeda,” ujar Meutya.
Dirinya memaparkan bahwa interaksi anak dengan teknologi wajib diselaraskan dengan tingkat kematangan serta usia. Walau jagat digital menyediakan sarana edukasi, bahaya nyata seperti penipuan siber, perundungan siber, pemangsaan seksual anak, hingga ketergantungan gim daring tetap mengintai. Lewat PP TUNAS, regulator membatasi akses pengguna di bawah 16 tahun pada aplikasi digital berisiko tinggi.
“Bukannya dilarang seumur hidup naik mobil, tapi tunggu mereka siap. Karena jalanan itu berbahaya untuk anak kecil. Demikian juga media sosial dan game online yang kita anggap risikonya tinggi,” tegasnya.
Ketika berdiskusi, beberapa murid turut menceritakan pengalaman menjadi korban penipuan saat berbelanja daring. Menanggapi hal itu, Meutya memandang proteksi anak tak sekadar memasang batasan umur, melainkan menanamkan pemahaman mendalam tentang bahaya siber agar mereka waspada secara mandiri.
Meutya menerangkan pula bahwa skema PP TUNAS bertumpu pada mitigasi risiko. Operator sistem digital diwajibkan memenuhi standar keselamatan anak, sementara pihak keluarga beserta tenaga pendidik memegang peran krusial mengawasi kebiasaan berselancar di internet.
“Sekali lagi saya mengajak orang tua dan tenaga pendidik untuk ikut membangun kebiasaan digital yang sehat. Pendampingan perlu berjalan bersama upaya menciptakan kesempatan bagi anak untuk belajar, bermain, berolahraga, dan berinteraksi secara langsung,” pungkasnya.
(Rahman Asmardika)
