Watch Dogs Legion menjelma menjadi salah satu proyek permainan video yang membawa konsep luar biasa berani dan sangat megah. Paling tidak, kesan perdana yang amat spektakuler itulah yang berhasil dipancarkan oleh pihak pengembang Ubisoft saat mula-mula memperkenalkan karya teranyar ini ke hadapan khalayak umum penikmat gim dunia. Pendekatan narasi yang dihadirkan kini tidak lagi sejalan dengan fondasi dua judul pendahulunya, di mana alur cerita dipusatkan pada pundak satu sosok protagonis tunggal berkepribadian kuat yang fondasi penokohannya dirancang lewat penulisan sangat matang. Pada petualangan terbarunya, kamu akan secara langsung diposisikan untuk merekrut, memobilisasi, serta menggerakkan beraneka ragam karakter figuran non-player character atau NPC dari seantero penjuru wilayah perkotaan guna mengambil peran sentral dalam pergolakan panggung kota metropolitan London yang sarat warisan historis monumental berdampingan harmonis bersama kemegahan ragam kebudayaan multikultural modern.
Gagasan super masif dan tidak biasa yang secara sengaja mengikutsertakan ribuan populasi masyarakat sipil kota London ke dalam rantai peristiwa cerita pokok tersebut, tentu saja secara otomatis mengundang rasa ragu, curiga, serta skeptisisme mendalam di benak komunitas gamer perihal bagaimana eksekusi teknis serta kestabilan narasinya diimplementasikan di lapangan. Kendati demikian, perusahaan sebesar Ubisoft tampak berhasil membuktikan kapasitas profesional mereka untuk mengeksekusi premis yang rumit tersebut ke tataran realitas permainan yang berjalan begitu meyakinkan, terarah, dan sangat terstruktur secara teknis.
Kalangan penggemar fanatik waralaba Watch Dogs tentu sudah menaruh keakraban mendalam pada denyut nadi semesta fiksi ini berkat keterlibatan krusial kubu peretas DedSec, sebuah entitas sindikat hacker bawah tanah yang sebelumnya diperkenalkan secara dominan pada sekuel keduanya. Kehadiran mereka kembali diembuskan dalam semesta Legion dengan membawa mandat operasi anyar, yakni melancarkan perlawanan gerilya terorganisir demi meruntuhkan hegemoni para elit penguasa korup di London sekaligus menyingkap tabir manipulasi busuk mereka ke hadapan pandangan khalayak ramai. Ironisnya, alih-alih dielu-elukan sebagai pahlawan pembawa kebebasan, DedSec justru mendadak terpojok menjadi pihak yang dicap sebagai gembong antagonis kriminal paling dicari akibat serangkaian konspirasi jebakan sabotase ledakan terorisme yang didalangi oleh figur anonim penuh misteri bernama samaran Zero Day.
Lantas, mampukah seluruh anggota kolektif DedSec menyibak tabir misteri gelap di balik figur misterius Zero Day, sembari mengungkap kebusukan konspirasi terselubung yang dijalankan para konglomerat dan penguasa demi memperkaya kekayaan pribadi mereka di balik layar kekuasaan? Mari simak penelusuran serta pembedahan mendalam kami secara komprehensif pada ulasan berikut ini.
Iterasi dengan Konsep Super Gelap
Sebagaimana telah diuraikan pada pembahasan pembuka, para pemain tidak akan lagi mengendalikan satu figur individu sentral yang tetap layaknya peran Marcus Holloway pada seri kedua terdahulu. Pada mekanisme permainan teranyar ini, kendali penuh berada di tangan salah seorang karakter NPC yang telah berhasil kamu rekrut secara sukarela ke dalam lingkaran barisan DedSec. Menjelang babak permulaan aksi permainan, kamu akan terlebih dahulu diberi kesempatan memegang kendali tokoh Dalton, seorang mantan personel agen rahasia badan intelijen MI6 yang mengemban tugas darurat melumpuhkan detonator peledak berkekuatan masif. Malangnya, dalang utama di balik perancangan rentetan peledakan mematikan tersebut tidak lain adalah Zero Day, yang dengan licik menyusun skenario fitnah untuk mendiskreditkan DedSec sebagai pihak tertuduh utama, sehingga sindikat peretas tersebut seketika bermetamorfosis menjadi buronan nomor satu yang diburu aparat penegak hukum dan keamanan kota London.
Tragedi teror berskala luas ini pada akhirnya menjadi celah legitimasi bagi masuknya Albion, sebuah korporasi militer swasta bersenjata lengkap yang mengambil alih wewenang otoritas aparat kepolisian konvensional guna mengontrol stabilitas seluruh kawasan metropolitan London dengan tangan besi. Di tengah situasi krisis kepemimpinan, figur Sabine yang memimpin sisa-sisa anggota DedSec mulai menyusun strategi dengan merekrut sejumlah orang biasa dari jalanan secara acak guna membangun kembali fondasi perlawanan dari nol mutlak. Visi perjuangan mereka sangat tegas dan mutlak, yaitu menumpas cengkeraman kekuasaan otoriter Albion beserta aliansi faksi kejahatan yang membelenggu London, membongkar sosok sejati di balik topeng Zero Day, dan mengembalikan kedaulatan kota dari para koruptor dan penjahat berbahaya yang bercokol di dalamnya.
London Masa Depan yang Istimewa
Secara kasat mata, aspek visual grafis yang disuguhkan Watch Dogs Legion mungkin terkesan tidak menawarkan lompatan teknologi visual yang terlampau radikal dari pendahulunya, namun harus diakui secara jujur bahwa Ubisoft sangat piawai mengemas atmosfer kota London ke dalam lanskap virtual yang luar biasa imersif, hidup, dan meyakinkan. Tim pengembang sukses merancang sebuah ruang perkotaan terbuka yang bukan sekadar membentang secara geografis semata, melainkan juga padat, berkarakter, dan penuh dengan dinamika sosial masyarakat urban. Setiap tata ruang, sudut jalanan, hingga infrastruktur kota dibangun melalui ketelitian desain yang sangat terperinci, sehingga tidak ada satupun sudut wilayah yang tampak mati atau dibiarkan hampa begitu saja.
Komposisi corak multikulturalisme masyarakat yang mewarnai setiap denyut kehidupan kota ini berhasil diterjemahkan secara visual dengan sangat mengagumkan. Pemandangan sentra pertokoan yang saling berhimpitan, representasi kebanggaan warganya terhadap identitas monarki Kerajaan Inggris Raya, deretan mahakarya arsitektur bersejarah bernilai tinggi, hingga bentangan megah jembatan Sungai Thames yang sangat legendaris terpampang dengan begitu presisi. Kendati penulis sendiri secara faktual belum pernah berkesempatan menjejakkan kaki langsung di London, penggambaran tata kelola kota metropolis modern yang sedemikian artistik dan tertata apik ini mampu menghadirkan pengalaman visual yang nyata, seolah mewujudkan angan-angan pribadi untuk menjelajahi kota impian tersebut melalui perantara sebuah video game.
Pada lanskap Watch Dogs Legion, kota London diproyeksikan melalui lensa masa depan yang bernuansa futuristik modern nan imajinatif, namun tetap berpijak kokoh pada unsur realisme struktural dunia nyata. Rancangan tata peradaban kotanya direfleksikan lewat pemanfaatan kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang telah terintegrasi secara menyeluruh untuk mempermudah rutinitas operasional serta mobilitas pekerjaan harian masyarakat perkotaan.
Sepanjang perjalanan, kamu akan terus-menerus menjumpai lalu lalang puluhan armada wahana udara nirawak atau drone yang beterbangan mengisi ruang udara kota, mulai dari drone pembawa paket logistik, drone pengawas milik kantor berita, hingga patroli ketat drone bersenjata milik aparat kepolisian dan satuan militer kontra-terorisme. Keberadaan kendaraan otomatis tanpa sopir atau self-driving car yang sepenuhnya digerakkan sistem komputasi AI independen tanpa ada sosok NPC pengemudi di dalamnya, seperti halnya armada taksi publik, dapat dengan mudah ditemukan melintas, termasuk deretan purwarupa mobil masa depan yang rancangan interior kabinnya tampak mengadopsi estetika futuristik khas kendaraan Mercedes Benz F015.
Langkah merancang replika wilayah teritorial Inggris ke dalam kanvas permainan virtual sebenarnya bukan kali pertama dieksekusi oleh Ubisoft, mengingat mereka sebelumnya telah memamerkan kemahiran serupa pada proyek Assassin’s Creed Syndicate yang menggambarkan keanggunan London era revolusi industri tempo dulu dengan memukau. Bahkan, seri Assassin’s Creed Valhalla pun turut mengambil latar teritorial daratan Inggris pada masa keemasan kerajaan abad pertengahan. Kendati terdapat kemungkinan bahwa tim produksi mendaur ulang sebagian aset lawas untuk disempurnakan kembali, derajat akurasi topografi serta atmosfer modernitas yang dihadirkan di game ini tetap layak memperoleh apresiasi yang sangat tinggi.
Kami adalah Kamu, Kamu adalah Kami
Guna melancarkan agenda pembebasan teritorial London dari belenggu kediktatoran, kamu dituntut meramu dan membangun kesatuan regu perlawanan dari kondisi nol. Berseberangan dengan pola permainan sebelumnya yang membatasi pemain pada karakter protagonis tertentu, dalam Watch Dogs Legion kamu memiliki kedaulatan mutlak untuk menentukan sendiri siapa saja figur yang pantas menjadi tokoh utama perlawanan. Pada permulaan cerita, sistem akan memberikan karakter NPC awalan yang bisa langsung digerakkan untuk melakoni sejumlah misi introduksi, di mana setelahnya kamu bebas merekrut dan memodifikasi komposisi anggota tim sesuai preferensi gaya bertarungmu sendiri.
Hampir setiap individu warga kota London yang berpapasan di jalan raya dapat didekati untuk diajak bergabung, bahkan termasuk para anggota pasukan dari faksi antagonis sekalipun. Tiap karakter figuran ini memuat latar belakang profesi yang bervariasi, catatan aktivitas harian yang spesifik, sentimen pandangan pribadi mereka terhadap reputasi sindikat DedSec, hingga bekal spesialisasi kemampuan dasar yang sangat berlainan satu dengan lainnya.
Ambil contoh keberadaan karakter dengan profesi pembunuh bayaran profesional, mereka secara alamiah dianugerahi presisi bidikan serta penguasaan senjata api yang jauh lebih akurat dibandingkan karakter warga biasa. Menariknya, nyaris semua individu yang kamu jumpai di jalanan memiliki kompetensi dasar untuk melancarkan aksi peretasan sistem digital, sehingga pemain tidak perlu merasa cemas apabila merekrut sosok tunawisma jalanan yang mungkin sempat dikira gagap terhadap operasional teknologi hacking.
Memanfaatkan pergantian karakter NPC dengan paduan skillset yang majemuk membuat dinamika alur permainan berjalan jauh lebih variatif, dinamis, dan memuaskan. Sebagai gambaran praktis, kamu dapat mengoperasikan seorang anggota korporasi militer Albion untuk menyusup mulus ke dalam instalasi markas tertutup mereka tanpa memicu kecurigaan, asalkan kamu mampu menjaga jarak aman dari pandangan prajurit musuh agar operasi penyusupan berjalan sukses tanpa cela. Opsi alternatif lainnya, kamu dapat memanfaatkan keahlian seorang spesialis drone master guna membajak sistem kendali drone lawan dan mengalihkannya untuk menyerang balik barisan pasukan musuh. Padukan taktik tersebut dengan kemampuan pelumpuh senjata atau kejut listrik, maka misi sesulit apapun dapat dituntaskan secara mulus tanpa rintangan berarti.
Akan tetapi, ketelitian dalam membaca daftar keahlian bawaan seorang target rekrutan mutlak diperlukan sebelum meresmikannya menjadi personel inti tim kamu, mengingat efektivitas mereka akan sangat bergantung pada kecocokan gaya bermainmu di lapangan. Perlu digarisbawahi bahwa kematian karakter di arena pertempuran bersifat permanen secara baku. Meski demikian, pihak pengembang tetap menyediakan opsi penyesuaian tingkat risiko kematian NPC di menu pengaturan untuk menonaktifkan fitur permadeath ini, sehingga pemain dapat terhindar dari konsekuensi fatal akibat kecerobohan taktis.
Mekanisme merekrut anggota NPC ini sendiri dikelompokkan ke dalam beberapa jalur metode, mulai dari proses rekrutmen spontan di ruang publik, pembebasan distrik wilayah tertentu, perekrutan berstatus terbatas, hingga merekrut personel dari kubu faksi lawan yang sebelumnya bermusuhan.
Untuk mengamankan komitmen seorang NPC, kamu umumnya diwajibkan terlebih dahulu menuntaskan misi permohonan bantuan dari yang bersangkutan, sebuah timbal balik logis guna mengukuhkan tali kepercayaan timbal balik. Beberapa di antara mereka memiliki rajutan relasi sosial yang unik dengan karakter lain di semesta London, seperti ikatan kekasih, relasi rekan seperjuangan, hingga pertalian sanak keluarga, dan tidak sedikit pula yang memendam rasa dendam membara terhadap kesewenang-wenangan aparat Albion.
Daftar penugasan yang diajukan oleh calon anggota NPC ini terbilang cukup beragam, mulai dari operasi peretasan pencurian berkas data penting dari korporasi korup, misi evakuasi pembebasan rekan yang disandera, hingga instruksi pengambilan foto rahasia pada dokumen terlarang. Sementara itu, untuk merekrut anggota faksi antagonis, kamu wajib terlebih dahulu membuka peningkatan skill advanced profiler pada gawai kamu agar dapat membedah jadwal rutinitas, aktivitas harian, serta akar persoalan yang melandasi sentimen kebencian mereka di luar ranah tugas kedinasan.
Kehadiran detail psikologis dan rutinitas yang sedemikian mendalam ini berhasil menyuntikkan interaktivitas yang sangat impresif ke dalam permainan. Sebuah pencapaian berskala ambisius yang secara mengejutkan sanggup diwujudkan secara fungsional oleh Ubisoft. Namun demikian, variasi misi rekrutmen yang dihadirkan lama-kelamaan terasa repetitif dan berulang, sehingga mekanik NPC sebagai pahlawan cerita ini lambat laun kehilangan nuansa kehidupan yang organik.
Bisa dimaklumi bahwa merancang ribuan variasi penugasan yang benar-benar berbeda untuk populasi melampaui 2.000 karakter merupakan beban teknis yang teramat berat, kendati demikian rancangan sistem yang sedemikian inovatif ini terasa agak disayangkan karena kurang disokong oleh ragam misi sampingan yang kaya dan mendalam.
Di balik detail sistem rekrutmen yang begitu canggih, penulis secara personal merasakan friksi tersendiri saat berusaha mencari karakter yang benar-benar memenuhi kriteria ideal, khususnya mereka yang memiliki penampilan fisik rupawan, berparas menarik, namun sekaligus dipersenjatai kombinasi kemampuan tempur yang mumpuni. Realitas ini menjadi semacam paradoks alami, mengingat preferensi dasar sebagian besar gamer selalu menginginkan karakter utama yang berpenampilan keren, tampan, atau cantik dengan segudang talenta mematikan.
Kenyataannya, sebagian besar karakter NPC yang memiliki wajah rupawan yang dijumpai justru tidak dibekali atribut keahlian taktis yang esensial untuk pertempuran. Mayoritas dari mereka berprofesi sebagai pekerja seni, aktor panggung, atau musisi yang membawa sifat keahlian pasif selebritas yang kerap merepotkan saat diterjunkan dalam operasi senyap. Fenomena ini seolah melontarkan pesan sarkasme halus bahwa mereka yang berpenampilan menarik cenderung nihil keahlian teknis operasional, setidaknya dalam konteks positif bagi operasi bawah tanah.
Peralihan konsep menuju banyak karakter NPC ini sayangnya juga berimbas pada terpangkasnya sejumlah kapabilitas pergerakan fisik yang amat dirindukan, terutama penghapusan manuver parkour lincah secara menyeluruh. Meskipun beberapa rintangan tembok dan struktur kontur vertikal masih bisa dipanjat, tingkat fleksibilitas gerakannya tidak lagi seluwes manuver akrobatik yang diperagakan Marcus di Watch Dogs 2.
Minimnya kedalaman cerita personal serta keterikatan emosional antar individu NPC menjadi noktah kekurangan berikutnya dari implementasi konsep ini. Tentu sangat tidak realistis mengharapkan pihak pengembang menyusun latar belakang biografis yang mendalam bagi ribuan karakter figuran secara individual, karena beban produksinya tentu akan menjadi terlampau mustahil bagi Ubisoft.
Walau demikian, pendekatan naratif ini semestinya bisa diakali dengan cara mengerucutkan penulisan cerita yang kuat pada beberapa figur NPC rekrutan khusus saja. Sebagai contoh, menghadirkan kelompok rekrutmen spesifik dengan penugasan eksklusif yang membeberkan secara emosional alasan mereka bangkit melawan tirani para oligarki korup, dan alasan mengapa mereka membutuhkan payung aliansi DedSec.
Dengan format eksekusi semacam itu, tanpa harus memutar balik arah ke paradigma konvensional di mana protagonis tunggal ditentukan sejak awal oleh developer, karakter-karakter rekrutan ini tetap sanggup memberikan kontribusi bobot cerita yang berarti pada benang merah utama, alih-alih sekadar terdegradasi menjadi bidak pembantu mekanis dalam struktur kampanye Watch Dogs Legion.
Drone, Semuanya Drone
Keunikan atribut yang melekat pada masing-masing NPC secara langsung menciptakan diferensiasi gaya bermain di lapangan. Sesuai pemaparan awal mengenai betapa mendominasinya ekosistem kecerdasan buatan serta armada drone di kota London, maka poros mekanik permainan kamu akan sangat bertumpu pada pemanfaatan instrumen nirawak tersebut. Drone dapat dikerahkan untuk melancarkan serangan udara ke posisi musuh, atau difungsikan sebagai platform pijakan melayang guna mengakses lantai puncak gedung tinggi.
Bagi pemain yang menggemari pendekatan senyap berbasis peretasan jarak jauh, piranti spider-drone dipastikan menjadi instrumen taktis paling vital di setiap operasi penyusupan. Melalui kendali mikro robot berkaki delapan ini, kamu bahkan sama sekali tidak perlu melangkahkan kaki ke dalam fasilitas militer lawan untuk menyelesaikan target objektif. Mekanisme ini menyajikan keasyikan bermain yang sangat memikat, terutama bagi kamu yang suka mengelabui kewaspadaan NPC lawan. Jika dibandingkan dengan teknologi pada edisi pertama dan kedua, kapabilitas manipulasi gawai di seri ini telah berevolusi menjadi jauh lebih kompleks, luwes, dan mutakhir.
Unit spider-drone ini pun dibekali kemampuan melumpuhkan kesadaran musuh dari jarak dekat lewat pelepasan arus listrik bertegangan tinggi. Penulis sendiri berhasil menuntaskan hampir seluruh rentetan misi kampanye utama murni memanfaatkan infiltrasi spider-drone tanpa perlu mengotori tangan karakter utama secara langsung di dalam zona merah. Kendati pada praktiknya, terdapat sekitar 10 persen porsi misi utama yang secara mutlak menuntut kehadiran fisik karakter secara langsung di medan operasi karena keterbatasan teknis yang tidak dapat ditangani oleh instrumen drone.
Pengembangan kapasitas persenjataan dan gawai karakter dapat ditingkatkan melalui penukaran tech points yang bertebaran di seluruh penjuru lanskap peta London. Titik persebaran tech points ini dapat dibuka akses petanya dengan cara menyelesaikan berbagai tantangan distrik yang tersedia di peta. Selain menyingkap lokasi poin teknologi, menuntaskan misi tantangan wilayah ini turut menghadiahkan akses perekrutan karakter NPC berkemampuan eksklusif yang sangat berharga untuk menopang efektivitas penyelesaian misi-misi selanjutnya.
Sentilan Politik dengan Antagonis Utama Hampa
Fokus narasi Watch Dogs Legion berakar pada upaya gigih barisan hacker DedSec dalam menguak konspirasi para figur antagonis yang memperalat panggung politik demi merengkuh supremasi kekuasaan mutlak di London. Dinamika perebutan pengaruh dan dominasi otoritas menjadi poros konflik yang terus berdenyut di sepanjang permainan. Skenario narasi gim ini juga melontarkan kritik sosial yang tajam terhadap rentetan kebijakan politik pasca-Brexit yang membayangi stabilitas Kerajaan Inggris. Cerita membedah bagaimana hak-hak kebebasan sipil masyarakat dipersempit, memicu eskalasi friksi sosial antara warga biasa melawan institusi keamanan negara, kemunculan fraksi separatis, ancaman terorisme, hingga penetrasi sindikat kejahatan terorganisir yang mencengkeram kehidupan kota.
Ruang metropolitan London praktis dikuasai oleh beberapa faksi berkepentingan, di antaranya konglomerasi militer swasta Albion yang memegang kontrak keamanan resmi dari pemerintah Inggris, serta sindikat kriminal Clan Kelley yang mengendalikan pasar gelap narkotika dan operasi perdagangan manusia. Di samping kedua faksi tersebut, pemain juga akan berhadapan dengan tiga figur antagonis lainnya, mulai dari pimpinan perusahaan teknologi Broca Tech yang digambarkan sebagai ilmuwan berjiwa psikopat, mantan perwira intelijen rahasia MI6, hingga entitas Zero Day yang diposisikan sebagai biang keladi di puncak konflik.
Ubisoft harus diakui berhasil merajut sebuah lanskap dunia distopia yang sarat dengan kekacauan sosial yang terasa autentik. Akan tetapi, urgensi kontribusi DedSec dalam merealisasikan misi penumbangan rezim para penjahat berkuasa tersebut terkadang terasa kurang menggigit secara dramatis.
Sebagian tokoh antagonis pendukung diakui berhasil digodok dengan karakterisasi yang sangat solid. Tokoh pemimpin korporasi Albion, Nigel Cass, tampil sangat dominan lewat porsi kemunculan yang ekstensif berkat posisinya sebagai komandan tertinggi aparat militer di London. Penulis sangat mengagumi kecakapan Ubisoft dalam memoles kepribadian figur ini secara mendalam, sehingga berhasil memicu rasa kebencian yang mendalam di hati para pemain. Sosok Mary Kelley pun diperkenalkan sebagai gembong sindikat perdagangan manusia yang luar biasa keji dengan naluri psikopat yang dingin. Karakter ini digambarkan tidak ragu melakukan tindakan biadab demi memperdagangkan tenaga kerja ilegal serta organ tubuh manusia. Tokoh-tokoh antagonis sekunder lainnya pun sukses memproyeksikan aura kelicikan yang meyakinkan.
Kontras yang sangat mengecewakan justru terpancar dari sosok musuh puncak, Zero Day. Karakter ini pada mulanya berhasil menebarkan tensi konspirasi dan intrik pembuka yang sangat menjanjikan di awal permainan. Sayangnya, bobot penokohannya justru terdegradasi secara drastis menjelang konklusi akhir Watch Dogs Legion, di mana teka-teki identitasnya sudah sangat mudah ditebak sejak fase awal cerita. Alasan serta motif ideologis di balik serangkaian aksinya pun terasa dangkal dan memicu tanda tanya besar. Penulis memandang Zero Day kurang layak memikul predikat sebagai musuh utama karena dampak keberadaannya terasa sangat minim dan terkesan dangkal.
Andai saja Ubisoft merancang karakter Zero Day dengan kedalaman motivasi serta perkembangan watak yang dinamis layaknya antagonis legendaris di waralaba Far Cry, ia tentu berpotensi menjelma menjadi salah satu sosok penjahat paling berkesan di sepanjang sejarah seri Watch Dogs. Sangat disayangkan, perumusan motif yang terlampau dangkal tersebut pada akhirnya melenyapkan potensi kekuatan narasi dan pamor sang karakter utama.
Beralih ke aspek teknis optimisasi performa, Watch Dogs Legion dapat dikatakan menyajikan kinerja sistem yang cukup bermasalah pada platform PC. Gejala stuttering dan penurunan frame rate masih kerap melanda, kendati konfigurasi kualitas visual grafis telah diturunkan ke level menengah atau medium. Spesifikasi komputer yang penulis gunakan untuk menguji gim ini pun tergolong sangat kompeten di atas rata-rata kelas menengah. Mengandalkan kartu grafis RTX 2070 bersanding dengan prosesor Intel Core i7 8700 serta sokongan memori RAM berkapasitas 32GB, rig ini rupanya tetap tertatih-tatih untuk menjaga performa rendering yang mulus di sejumlah area padat tertentu.
Meskipun alat uji benchmark internal menunjukkan capaian angka yang tergolong aman, pada praktiknya laju frame rate Watch Dogs Legion di berbagai sudut kota London kerap kali gagal mempertahankan standar 60fps, bahkan merosot tajam ke rentang 40 hingga 50fps. Padahal pengujian ini hanya dijalankan pada resolusi standar 1080p native tanpa mengaktifkan resolusi tinggi. Ubisoft jelas memiliki pekerjaan rumah besar untuk segera meluncurkan paket pembaruan patch optimisasi stabilitas teknis berbarengan dengan agenda peluncuran ekspansi konten pasca-rilis, termasuk fitur multipemain daring dan paket ekspansi DLC di masa mendatang.
Secara garis besar, Watch Dogs Legion berhasil menghadirkan sebuah terobosan mekanik super ambisius dari Ubisoft melalui inovasi sistem rekrutmen warga kota yang awalnya tampak mustahil di atas kertas, namun sukses ditransformasikan menjadi mekanik bermain yang solid dan fungsional. Variasi keahlian antar karakter memberikan fleksibilitas gameplay yang luas bagi pemain. Kendati begitu, absennya latar belakang naratif personal yang menyentuh pada karakter NPC membuat mereka rentan dipandang sebatas instrumen teknis pendukung misi semata tanpa ikatan emosional.
Sistem rekayasa peretasan yang semakin diperluas menyediakan spektrum taktik yang amat kaya bagi para pemain, membuka keleluasaan untuk menempuh gaya bertarung senyap tanpa terdeteksi, agresi tempur terbuka yang brutal, hingga infiltrasi spionase penuh perhitungan menggunakan instrumen pengintai.
Penggambaran topografi kota metropolitan London tereksekusi dengan derajat keakuratan yang mengagumkan, diperkaya sentuhan pluralitas multikultural yang mempertegas kedalaman imersi dunia permainan. Lanskap ini memberikan sensasi nyata menjelajahi tata ruang kota modern Eropa tanpa perlu meninggalkan meja bermain. Suasana ketegangan sosio-politik yang carut-marut, perebutan hegemoni antar faksi bersenjata, serta intrik kekuasaan di sekeliling wilayah London dihadirkan dengan pendekatan realisme yang pekat, memaparkan proyeksi suram bahwa dinamika kehidupan masyarakat Inggris pasca-era Brexit tidak seindah harapan yang dibayangkan.
Kelemahan terbesar gim ini terletak pada ketidakmampuan Ubisoft menyandingkan kehebatan inovasi teknis tersebut dengan konklusi cerita yang memuaskan pada figur antagonis utama, Zero Day, yang motivasi kejahatannya berujung hampa dan antiklimaks. Kehadiran para tokoh antagonis sampingan justru terasa jauh lebih mengintimidasi, memiliki karisma kuat, serta dibangun dengan kompleksitas motif yang jauh lebih memikat dibandingkan Zero Day yang terkesan menyisakan tanda tanya hampa di akhir petualangan.
Pada akhirnya, Watch Dogs Legion merupakan judul yang sangat direkomendasikan bagi kamu yang menyukai intrik konspirasi bertema friksi politik modern, menyukai sensasi gim aksi spionase taktis, atau memang merupakan pengikut setia dua judul terdahulu. Namun bagi para gamer yang kurang menyukai repetisi aktivitas di ruang terbuka berskala masif, ada baiknya mempertimbangkan kembali sebelum memutuskan untuk menyelami semesta ini.
